Saturday, August 30, 2014

Bireuen dalam Revolusi Kemerdekaan RI (1945-1949)

Oleh: Khairil Miswar
Bireuen, 31 Agustus 2014

Menulis sejarah bukanlah hal mudah, butuh ketelitian dan kejelian dalam menangkap makna berbagai peristiwa yang terjadi di masa lampau. Berbeda halnya dengan menulis novel yang hanya bergantung kepada imanjinasi dan daya khayal seorang penulis. Dalam sebuah novel, seorang penulis memiliki “kekuasaan mutlak” sebagai dalang yang akan menentukan arah cerita. Hal ini tentunya tidak berlaku dalam penulisan sejarah, di mana data dan fakta menjadi “ratu” yang tidak bisa diabaikan.